Shadow

Tradisi Rengginang Terancam Punah di Citeureup, Akibat Harga Bahan Baku Melejit

BOGOR-

Suara gemerisik rengginang yang sedang dijemur di bawah terik matahari biasanya menjadi pemandangan ikonik menjelang Idulfitri di pemukiman warga Citeureup. Namun, menjelang Lebaran tahun 2026 ini, pemandangan tersebut mulai langka.
​Mahalnya harga bahan baku pangan disinyalir menjadi penyebab utama warga enggan memproduksi camilan khas berbahan dasar ketan tersebut.

​Ketan Jadi Barang Mewah
​Warga mengeluhkan lonjakan harga komponen utama pembuatan rengginang yang kini dianggap memberatkan kantong dapur. Menurut kesaksian warga setempat, kenaikan harga terjadi merata pada:

Bahan Baku Harga Per Satuan
Beras Ketan Rp20.000 / liter
Kelapa Rp20.000 / butir
Gula Merah Rp17.000 / kg

Dapur Tradisional Mulai “Dingin”

​Mak Ooy (52), salah satu warga yang biasanya rutin membuat penganan Lebaran, mengaku tahun ini menyerah dengan keadaan.

​”Sekarang beras ketan mahal, jadi tahun ini tidak kebeli. Saya bikin cemilan lain saja. Di kampung ini bukan cuma saya, hampir semuanya tidak bikin rengginang,” ungkapnya kepada kliktetis.com (11/03/26).

​Tidak hanya rengginang, tradisi membuat dodol yang membutuhkan proses lama dan biaya besar pun turut ditinggalkan. Halaman rumah yang biasanya penuh dengan tampah penjemur rengginang kini nampak sepi.

​Harapan Warga

​Kondisi ini memicu kekhawatiran akan hilangnya tradisi turun-temurun. Warga sangat berharap pemerintah dapat menstabilkan harga bahan pokok agar di masa mendatang, meja tamu saat Lebaran tetap bisa dihiasi oleh rengginang asli buatan tangan, bukan sekadar kaleng biskuit pabrikan.
​Sangat terasa ya, kalau harga pangan sudah naik, yang tergerus bukan cuma dompet, tapi juga kehangatan tradisi.(tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *