Shadow

Kopi dan Jalan Pengabdian Ismail Komar

klikterus.com, Bandar Lampung – Ismail Komar barangkali bisa menjadi salah satu inpirasi untuk bisnis UMKM di Indonesia. Bukan hanya soal bagaimana  melakoni usaha untuk mendapatkan keuntungan, pemilik  Warkop WAW di Kompleks Perumahan Graha Madu Pesona, Jalan Turi Raya, Tanjung Senang, Bandar Lampung ini, mendedikasikan usahanya sebagai ladang pengabdian kepada Tuhannya.

Komar  menjadikan produk sebagai minuman berkhasiat obat sekaligus juga untuk meningkatkan kesejahteraan petani kopi di daerah tersebut. Alasannya, Komar yang sempat terpuruk karena penyakit diabetes, liver, dan paru-paru basa merasa kopi menyelamatkan nyawanya. Wujud rasa syukurnya, Komar kini menjadikan kopi sebagai ladang pengabdiannya.

“Saya pernah bernazar (janji) jika penjualan kopi WAW ini meningkat, saya tidak akan menaikan harganya, tetapi akan meningkatkan harga beli ke petani,” ujarnya, di tengah acara pelantikan Pengurus DPW Himpunan Petani Milenial Indonesia Lampung, Rabu (3/2/2021). Warkop WAW turut mendukung acara yang digelar di Gedung Balai Keratun, Kompleks Pemerintahan Provinsi Lampung tersebut.

Komar juga memposisikan diri layaknya ‘duta’ kopi. Obrolan yang keluar dari mulutnya, selalu terselip edukasi tentang minuman tersebut. Bahkan, pernah ada konsumen yang ingin membeli kopi untuk dikonsumsi dalam jumlah besar. Tentu, selain ingin mendapat khasiat konsumen itu juga ingin menghemat waktu, sehingga tidak perlu bolak-balik beli kopi. Namun, Komar membatasi jumlah yang boleh dibeli. “Kalau sudah menjadi bubuk harus habis dalam satu bulan. Kalau biji yang sudah di roasting bisa bertahan sampai enam bulan.” Kata dia. Karena untuk konsumsi pribadi di rumah, Komar menyarankan agar kopi bubuk yang dibeli untuk keperluan satu bulan. Jika sudah habis, nanti bisa memesan lagi.

Pertautan Komar dengan kopi memang memiliki cerita panjang dan dramatis. Tahun 2015 hingga 2018 adalah masa yang cukup berat bagi dirinya. Penyakit diabetes, liver, dan paru-paru basa menggerogoti fisiknya, Komar bahkan tak mampu lagi berjalan, dan hanya terbaring di tempat tidur. Dia menjalani dua kali operasi paru-paru,  dan sepanjang tahun-tahun tersebut menghabiskan waktunya di ruang rawat inap rumah sakit, dari mulai RS Urip Sumoharjo hingga Siloam Jakarta.

Pengobatan yang memakan waktu panjang itu, membuatnya nyaris putus asa. Penyakitnya tak kunjung sembuh, bahkan kondisi suami dari dr. Endang Purwaningsih semakin hari semakin memburuk. Berat badannya, merosot hingga tersisa 35 kilogram. Hartanya juga terkuras untuk membiayai pengobatan.

“Akhirnya saya memutuskan keluar rumah sakit, dan menjalani pengobatan di rumah saja,” kata dia.

Istrinya, dr. Endang Purwaningsih tentu sangat terpukul melihat kondisi suami yang dicintainya. Alumnus Fakutas Kedokteran (FK), Universitas Gadjah Mada (UGM)  ini terus mencari cara terbaik untuk menyembuhkan penyakit yang diderita suaminya. Berbekal pengetahuan medis dan jejaringnya di Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM), Endang mendapat saran dari rekan sejawatnya, sesama alumni FK UGM yang meneliti khasiat kopi, untuk memberikan kopi jenis robusta secara rutin kepadanya.

Tetapi, kopi yang diminum bukan yang biasa dibeli di warung. Kopi tersebut harus diracik sedemikian rupa. Mulai dari lokasi asal biji kopinya, cara sangrainya, hingga menyeduhnya dengan air bersuhu 85-90 derajat. Dan, tanpa gula!

Satu bulan rutun mengonsumsi kopi, Komar mulai merasakan kondisi tubuhnya membaik. “Kadar gula saya juga menurun hingga di bawah 200. Angka itu bisa disebut normal. Saat sakit itu kan dalam sehari, saya bisa lima kali mengecek kadar gula di tubuh saya,” katanya. Lalu, dia berdoa”

“Ya Allah, selamatkan saya melalui kopi,”.

Ismail Komar menunjukan mesin roasting untuk produksi kopi WAW. Menurut dia, roasting green bean menjadi biji kopi siap konsumsi bukan hanya menentukan rasa, tapi jaga khasiat dari kopi tersebut terhadap orang yang mengkonsumsinya. Foto : madsutia

Komar benar-benar merasa sembuh setelah rutin mengonsumsi kopi selama tiga bulan. Untuk penyekit paru-paru, kata dia, kurang lebih memerlukan waktu satu tahun. Komar pun beraktivitas kembali.

Di ‘kehidupan baru’nya ini, Lelaki yang dulunya menggeluti dunia jurnalistik, mulai menekuni ketertarikannya dengan kopi. Ia berguru ke Jakarta untuk mengikuti kursus perkopian dari tingkat dasar hingga level yang paling tinggi.

Berbekal pengetahuannya itu, Komar membuka kedai kopi. Dia melabeli usahanya itu dengan nama Warung Kopi WAW, sebuah nama yang mengangkat kebanggan lokal sekaligus memberi kesan luar biasa. Usahanya kini sudah merambah pasar nasional. Bahkan, Komar yang beberapa kali mengikuti pameran kopi di luar negeri, diminta untuk mengekspor kopi ke beberapa negara. Tapi sekali lagi, Komar tidak sekedar mengejar keuntungan semata melalui bisnisnya ini. Dia ingin mempopulerkan kopi sebagai minuman berkhasiat ‘obat’.

“Saya ingin Warkop Waw dimiliki semua orang, ngopi sehat harus dinikmati bersama. Menariknya, ada orang yang memiliki penyakit berbeda dari saya juga konsumsi kopi ini, alhamdulillah sehat. Sehingga saya terus menyebarkan semangat bagi mereka,” paparnya. (ful)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *