Shadow

Laporan Bingkisan Pahit Satu Tahun Rudy Susmanto Dan JA, Rakyatnya Masih Miskin Jangan Dengarkan Sengkuni

BOGOR-

Kabupaten Bogor kembali menjadi sorotan nasional setelah tercatat sebagai daerah dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Indonesia. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa problem kemiskinan bisa menjadi “bingkisan pahit” menjelang satu tahun kepemimpinan Bupati Bogor Rudy Susmanto dan Wakil Bupati Ade Ruhandi.

Keduanya resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bogor Periode 2025–2030, pada Kamis (20/2/25) di Istana Merdeka, Jakarta.

Dewan Pembina Pimpinan Cabang Generasi Muda Kesatuan Penerus Perjuangan Republik Indonesia (Garuda KPP-RI), Reza Sangardia Alfarisi, mengatakan bahwa status Kabupaten Bogor sebagai daerah dengan penduduk miskin terbanyak harus menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah.

“Bumi Tegar Beriman termiskin di Indonesia. Pertanyaan soal apakah pertumbuhan penduduk memengaruhi jumlah penduduk miskin itu sebenarnya tidak langsung, karena kemiskinan adalah persoalan non populasi,” ujarnya kepada klikterus.com, Jumat (21/11/25).

Reza menjelaskan, kemiskinan tidak semata-mata terkait jumlah penduduk, melainkan lebih banyak dipengaruhi kebijakan pemerintah, khususnya pada sektor pangan, ketenagakerjaan, pendidikan, dan kesehatan.

“Lebih dari 70 persen pengeluaran kelompok miskin itu untuk pangan. Ketika harga pangan naik, jumlah penduduk miskin otomatis ikut bertambah,” katanya.

Selain konsumsi, mahalnya biaya pendidikan, layanan kesehatan, dan akses perumahan juga turut memperburuk kondisi masyarakat miskin di Kabupaten Bogor. Menurutnya, tiga bidang harus segera dibenahi pemerintah daerah: hak sosial, pendidikan dan keahlian tenaga kerja, serta investasi dan ketenagakerjaan.

“Jika kemiskinan tidak turun secara progresif, itu artinya Kabupaten Bogor belum berhasil memberikan hak sosial yang luas, belum meningkatkan kualitas angkatan kerja, dan belum memiliki kebijakan investasi yang efektif menyerap tenaga kerja,” tegasnya.

Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah harus mulai menunjukkan keberpihakan nyata.
“Saatnya Bupati mendorong kebijakan afirmatif yang benar-benar memberdayakan rakyat miskin,” tambahnya.

Sebelumnya diberitakan Salah satu warga diwilayah Babakan Madang Nenek Piyah Tinggal di Rumah Tak Layak Huni

Di tengah persoalan kemiskinan yang terus mencuat, kondisi memprihatinkan dialami seorang lansia bernama Piyah (60), warga Kampung Cimandala, Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang.

Ia masih menempati rumah yang telah lama rusak dan tidak memenuhi standar hunian layak. Atap bocor parah, dinding rapuh, serta lantai tidak rata membuat aktivitas sehari-hari menjadi berisiko bagi perempuan lanjut usia itu. Meski begitu, ia tetap bertahan karena tidak memiliki tempat tinggal lain.

Warga sekitar mengaku prihatin dan sesekali membantu memperbaiki bagian rumah yang rusak. Namun, kerusakan yang ada sudah terlalu berat untuk diperbaiki secara swadaya.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bogor, Farid Maruf, mengaku baru mengetahui kondisi tersebut setelah menerima laporan masyarakat.

“Saya baru mengetahui kondisi Ibu Piyah. Kami akan segera memberikan bantuan dan sudah memerintahkan jajaran untuk mengecek langsung kondisi di lapangan,” ujarnya.(Tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *