BEKASI —
Amarah warga Bekasi membuncah akibat tumpukan sampah rumah tangga yang kembali mencemari aliran Sungai Cileungsi. Lemahnya pengawasan dan ketegasan pemerintah daerah di wilayah hulu, khususnya Kabupaten Bogor, dinilai menjadi pemicu utama masyarakat di hilir terus menanggung dampak pencemaran.
Wawan, warga Bantargebang, Kota Bekasi, mengungkapkan kekecewaannya atas kondisi sungai yang kian memprihatinkan. Ia menilai pembiaran di tingkat atas tercermin dari lemahnya penindakan di lapangan.
”Saya baca beritanya jadi miris. Pemerintahnya kok seperti tidak jalan? Masa buang sampah dibiarkan. Mereka yang buang, kami yang dapat dampaknya,” ujar Wawan.
Ia mendesak Pemerintah Kabupaten Bogor, hingga tingkat desa dan kecamatan, untuk memberikan sanksi keras kepada pihak-pihak yang membuang sampah sembarangan. Wawan menegaskan agar pejabat publik tidak sekadar membuat laporan formalitas bahwa masyarakat sudah tertib.
”Saya minta kepada pejabat Kabupaten Bogor untuk menindak tegas warganya. Kalau memang tidak ada yang membuang sampah sembarangan, lalu sampah sebanyak ini datangnya dari mana?” tegasnya.
Pencemaran di Sungai Cileungsi ini diduga kuat merupakan dampak berantai dari wilayah hulu. Sebelumnya, tumpukan sampah rumah tangga yang mengapung masif juga terpantau di Sungai Citeureup salah satu anak sungai di kawasan Kabupaten Bogor tepatnya dari atas Jembatan Tarikolot, Jalan Raya Citeureup Sukamakmur.
Kendati kondisi hulu sudah memprihatinkan, respons dari jajaran pemerintah setempat dinilai belum menunjukkan langkah konkret. Saat dikonfirmasi mengenai masalah pembuangan sampah ke sungai di wilayahnya, Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Citeureup, Heru, hanya memberikan tanggapan singkat.
”Sudah saya lihat dan teguran,” kata Heru.
Sikap lambat dan sekadar teguran lisan ini memicu keprihatinan masyarakat hilir. Warga Bekasi kini menuntut tindakan nyata dan pengawasan ketat dari Pemkab Bogor agar aliran Sungai Cileungsi tidak terus dijadikan tempat pembuangan sampah raksasa yang merugikan wilayah lain.(tri)
