Shadow

2021: PR Kebersamaan Kita

Oleh : Riyan Hidayat (Sekjend DPP PGK)

_”kita menjadi bijak bukan oleh ingatan masa lalu, tetapi oleh tanggung jawab masa depan.”_ – George Bernard Shaw

Bilangan tahun masehi telah mengumumkan bahwa 2020 telah usai. Perjalanan waktu 2020 dan sebelumnya disebut masa yang telah berlalu. Beberapa kaum beranggapan soal masa lalu; Melankolis menganggap masa lalu adalah kenangan, kaum Koleris menganggapnya peristiwa, kaum Sanguinis melihat masa lalu sebagai pembelajaran, sedangkan kaum Plegmatis mengatakan dengan nada yang damai; yang berlalu biarlah berlalu.

Kita mesti bersyukur bisa menjadi bagian dari kaum-kaum tersebut diatas. Masa lalu, baik itu berupa kenangan, tragedi atau peristiwa, berbentuk sejarah atau hanya sekedar cerita, telah membuat siapa kita hari ini. Dan keputusan yang kita pilih detik ini, akan menentukan detik-detik berikutnya.

Indonesia sejak diproklamirkan sebagai sebuah bangsa dan negara telah resmi mengandung “Bayi Besar” yang berasal dari beragam suku, agama, budaya adat istiadat serta perbedaan-perbedaan lainnya. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 kita berkomitmen untuk dapat melahirkan “Bayi Besar” ini dengan selamat dan kita memberinya nama yang baik, yaitu kesejahteraan dan keadilan.

1945 hingga 2020 beberapa dari kita telah atau sedang merasakan nikmatnya kesejahteraan dan keadilan. Beberapa mencoba menikmatinya dari pinggiran. Dan beberapa lagi bahkan banyak dari kita yang masih tersudut kaku dipojokan…

Kita jenuh dengan wacana sosial yang masih terus berkutat seputar problematika mengelola perbedaan. Diseminasi toleransi bersamaan dengan gerakan lawan radikalisme bergaung membuat strategi ekonomi kerakyatan senyap tak terdengar.

Kita kerap mengumandangkan adzan kebersamaan dengan semangat meraih kekuasaan, dan bukan kasih sayang kepedulian. Kebersamaan kita terlalu tebal dengan lipstik yang norak. Mengajak untuk ayo hidup bersama, tapi kau harus mendaulat bahwa aku lebih hebat dan aku lebih kuasa. Ajakan kebersamaan semacam itu jauh dari menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, sebaliknya, perbedaan justru menghadirkan perpecahan.

2021 ini, semaksimal mungkin kita berupaya meminimalisir wacana konflik. Kran-kran dialog, musyawarah, dan gotong royong harus mendominasi perjalanan bangsa kita. Terlebih era Pagebluk yang masih tak kunjung usai. Kebersamaan harus nyata dirasakan.

Selamat Tahun Baru, membuka lembar baru.

Jakarta, 01 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *