Shadow

Habib Rizieq Shihab dan Proses Hukum  

Habib Muhammad Rizieq Shihab  (HRS) adalah seorang Ulama.  Beliau sangat fasih dalam menjelaskan berbagai perkara ilmu, dengan referensi yang jelas. Bahkan juga fasih menjelaskan sejarah dan sepak terjang PKI di Indonesia, dan juga fasih dan rinci menjelaskan perihal butir-butir Pancasila. Murid beliau banyak, beliau banyak menggelar majlis ta’lim, dan beliau punya Pesantren Markaz Syariah di Megamendung. Tentu saja sebagai ulama dan guru bagi murid-muridnya, beliau adalah seorang muslim yang selalu giat menuntut ilmu.

HRS menempuh Studi Agama Islam (Fiqih dan Ushul Fiqh) ke Universitas Raja Saud yang ditempuhnya selama empat tahun. Pada tahun 1990, Habib Rizieq dinyatakan lulus, lengkap dengan predikat Cum Laude. Kemudian beliau menempuh program pascasarjana di Universitas Islam Internasional Malaysia di bidang Syari’ah dan meraih gelar Master of Arts (M.A.) pada tahun 2008 di Universitas Malaya dengan tesis berjudul “Pengaruh Pancasila Terhadap Pelaksanaan Syariat Islam di Indonesia”. Pada tahun 2012, Habib Rizieq kembali ke Malaysia dan melanjutkan program pendidikan Doktor dalam program Dakwah dan Manajemen di Universitas Sains Islam Malaysia (USIM), dengan disertasinya yang berjudul مناهج التميز بين الأصول والفروع عند أهل السنة والجماعة   (Perbedaan Asal dan Cabang Ahlussunah Wal Jama’ah).

Dengan keulamaannya, HRS tentu saja adalah seorang Da’i (juru dakwah). Beliau selalu mengajak keluarganya, murid2nya, sahabat2nya, para pengikutnya dan masyarakat pada umunnya untuk selalu berbuat baik dan tidak melakukan perbuatan maksiyat dan kemungkaran. Juga kepada Pemerintah, beliau selalu menyampaikan nasehat dan kritik-kritik yang lugas dan tegas, demi kebaikan pemerintahan itu sendiri. Dakwah dan ceramah beliau ke seluruh pelosok Nusantara, bahkan sampai juga ke negeri jiran Malaysia.

Beliau adalah warga negara yang baik, taat hukum dan berkarakter Pancasila. Beliau tidak pernah dengan sengaja menista, mencaci, mencela orang lain, agama lain ataupun pemikiran-pemikiran yang tidak bertentangan dengan Pancasila, UUD 45, ataupun perundangan yang berlaku. Bahkan beliau bergaul dan berteman baik dengan tokoh-tokoh dari kalangan minoritas. Beliau, bersama pengikutnya selalu hadir membantu warga/masyarakat yang menjadi korban musibah bencana. Track recordnya sangat jelas, bagaimana kiprah beliau dan organisasinya (FPI) turun tangan berbulan-bulan saat Tsunami di Aceh. Ikut aktif bersama yang lain membantu korban gempa dan banjir di Yogya, Sumatera Barat, Lombok, Palu, dan sebagainya.

Beliau juga seorang warga yang peduli lingkungan, sejak 2013 melakukan Gerakan Go green, mencanangkan reboisasi di berbagai daerah. Bahkan pesantrennya berkonsep Pondok Pesantren (ponpes) Alam Agrokultural. Layaknya manusia pada umumnya, HRS adalah seorang ayah, mertua dan kakek yang bersahaja. Beliau sangat disayangi dan dihormati oleh isteri, ke enam puterinya dan para menantunya. Semua terdidik dalam nuansa akhlak yang Islami, dan bersemangat dalam  menimba ilmu, dan peduli kepada sesama. HRS tidak canggung bersama anak, isteri, menantu dan cucu untuk bercengkerama, bersenda gurau, dan sering juga pergi bertamasya bersama.

Sejenak setelah kepulangannya ke tanah air,  kini beliau dikejar, dijadikan tersangka, diperiksa dan akhirnya ditahan oleh aparat kepolisian (Polda Metro jaya), setelah sebelumnya 6 orang pengawal beliau ditembak mati oleh Polisi. Pada mulanya beliau dipersangkakan telah melanggar Pasal 93 Undang-Undang No 06/2018 tentang Karantina Kesehatan, karena dianggap mengundang kerumunan saat menyelenggarakan Maulid dan pernikahan puteri beliau pada tanggal 14 November 2020 di rumah beliau di Petamburan. Belakangan, tuduhan diubah menjadi tersangka atas pelanggaran Pasal 160 KUHP tentang penghasutan melakukan kekerasan terhadap penguasa, yang diancam penjara 6 tahun. Kini beliau ditahan, sampai 20 hari ke depan, sambil menunggu proses hukum berikutnya.

Kita semua mendesak, proses penegakkan hukum mesti terbuka dan berjalan seadil-adilnya. Banyak pengamat dan ahli hukum telah bersuara, bahwa proses penangkapan HRS terkesan dipaksakan dan sarat muatan politik. Tidak boleh penguasa memperlakukan warga negaranya di luar koridor hukum, atau menggunakan perangkat hukum untuk membungkam pihak-pihak yang berseberangan dan menyampaikan kritik. Negara ini didirikan dengan darah dan nyawa para pejuang, para pendiri bangsa, tidak boleh seenaknya saja diperlakukan sesuai keinginan dan kepentingan penguasa.

Semua harus tunduk kepada Pancasila, UUD 1945 dan semua perundangan yang berlaku. “Negara Indonesia adalah negara hukum”. Konsekuensinya adalah segala kehidupan kenegaraan selalu berdasarkan kepada hukum, bukan berdasarkan kehendak, apalagi kebencian pemerintah. Bila pemerintah, atau aparat penegak hukum memperlakukan HRS dan tokoh-tokoh yang berseberangan dengan cara-cara yang tidak berkeadilan, niscaya akan menimbulkan rasa ketidak-percayaan dan kemarahan rakyat. Jangan sampai muncul persepsi dan opini bahwa aparat penegak hukum melakukan tindakan diskriminatif, semena-mena dan kriminal terhadap ulama, juru dakwah, pejuang kemanusiaan dan seorang warga negara yang baik dan tidak pernah berniat jahat kepada siapapun, terlebih kepada negara. Mari kita cermati bersama!

Fahmy Alaydroes

Anggota DPR-RI Fraksi PKS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *