Shadow

Mengenal Mania, Terlihat Bahagia Padahal Berbahaya

Sumber: Freepik.com

Reporter: Mutiara Nur Shafira Aryandhini

Setiap orang memiliki suasana hati yang berbeda-beda setiap waktunya. Kadang terlihat bahagia, namun dalam suatu waktu dapat merasa sedih. Manusia pada umumnya ketika merasakan bahagia, akan terlihat baik. Namun, ada seseorang yang akan merasakan bahagia yang berlebihan yang juga dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Gangguan bipolar. Salah satu jenis gangguan kejiwaan yang menandai adanya perubahan suasana perasaan ekstrem dalam waktu yang cepat. Seseorang dengan gangguan bipolar memiliki dua episode dalam hidupnya. Pertama, ia akan merasakan episode depresi, dan yang kedua akan merasakan episode mania. Dinamakan episode dikarenakan selalu berganti-ganti dengan durasi waktu tertentu.

Pada episode depresi, penderita akan merasakan sedih yang sangat mendalam dan dalam jangka waktu yang lama. Ia berpikir bahwa tidak memiliki harapan untuk hidup dan tidak memiliki masa depan. Penderita juga menjauh dari teman dan keluarganya. Ia tidak tertarik untuk melakukan hal-hal yang dulu ia anggap menyenangkan. Mereka selalu merasa lelah dan tidak memiliki energi. Adanya penurunan daya ingat dan konsentrasi serta memiliki pikiran untuk bunuh diri dan berpikir mengenai kematian.

Sementara itu, untuk episode mania, penderita akan merasakan bahagia yang berlebihan. Sebenarnya, perasaan bahagia merupakan perasaan ketika seseorang terbebas dari segala hal yang menyulitkan. Pada penderita gangguan bipolar, mereka merasakan bahagia setelah melalui episode depresi yang melelahkan dan berlangsung lama. Sayangnya, bahagia dalam episode mania tidak selalu memiliki arti yang baik.

Mania dalam bipolar merupakan episode kegirangan atau euforia eksesif yang tidak normal. Mania memiliki beberapa ciri-ciri. Pertama, penderita memiliki pikiran yang cepat di kepalanya, sehingga ia akan berbicara sangat banyak dan cepat. Bahkan terkadang, ia belum menyelesaikan suatu topik, ia akan mulai untuk berbicara pada topik lain. Hal ini membuat orang lain akan merasa kesulitan untuk mengikuti apa yang dibicarakan.

Selain itu, akibat dari memiliki pikiran cepat di kepalanya, ia juga memiliki banyak ide yang harus direalisasikan segera. Namun, banyaknya ide ini tidak dibarengi dengan perencanaan yang baik untuk diwujudkan. Sehingga, ide-ide tersebut tidak terealisasikan dengan baik. Terakhir, akibat yang menyertainya ialah ia akan memberikan penilaian yang kurang baik dan mengambil keputusan pada hal yang kurang ia pertimbangkan. Sehingga, pada akhirnya ia akan menyesali keputusan yang telah ia ambil.

Kedua, setelah memiliki pikiran yang cepat di kepala, penderita akan kesulitan untuk tidur. Ia hanya akan berfokus pada hal yang sedang dilakukan dan tidak membutuhkan tidur. Ray, seorang penderita gangguan bipolar bercerita, ia pernah sampai tidak tidur dua hari karena mania menyerang.

Ketiga, penderita juga akan bertindak impulsif. Ia tidak akan bisa berdiam diri di satu tempat dan akan merasa cepat bosan. Akibat tindakan impulsif ini, ia juga bersikap agresif dan mudah marah. Penderita tak akan ragu untuk memicu konflik dengan orang sekitar. Ia juga akan kesulitan mengelola uang karena terus-menerus mengeluarkan uang tanpa perhitungan. Sering kali ia membeli suatu barang yang mana sebenarnya tidak diperlukan.

Keempat, penderita akan berpikir bahwa ia mampu mengerjakan semua hal. Ia menilai kemampuan diri sendiri secara berlebihan. Penderita tidak akan mempercayai apa yang orang lain katakan. Ia juga tidak menerima kritik dan saran dari orang lain, dan akan merusak hubungan dengan orang lain.

Kelima, meski merasa bahagia, pada episode mania mereka akan melakukan hal-hal yang beresiko tinggi, seperti menghabiskan uang untuk berjudi, mengonsumsi alkohol dan sebagainya, mengendarai kendaraan dengan cepat, hingga melakukan hubungan seks tidak aman. Rini, seorang psikiater juga mengatakan bahwa seseorang pada episode mania juga akan berpikir untuk melakukan self injury atau melukai diri sendiri.

Terakhir, pada tahap lebih parah, penderita juga akan mengalami halusinasi, yakni gejala psikotik dimana adanya berbagai hal yang dilihat, didengar atau diindra meski sebenarnya hal tersebut tidak benar-benar ada. Selain itu, penderita juga akan mengalami delusi, yakni adanya keyakinan terhadap sesuatu yang sebenarnya hanyalah sebuah imajinasi.

Selama ini mania hanya dikenal sebagai sebuah perasaan bahagia. Namun sebenarnya, mania lebih rumit dari sekadar bahagia. Ada hal lain dibaliknya yang membuat mania menjadi sesuatu yang berbahaya. Namun, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengontrol mania tersebut, yaitu dengan mengonsumsi mood stabilizer maupun psikoterapi. Bila mania dirasa cukup mengganggu, penderita disarankan untuk menemui profesional untuk mengatasinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *