Shadow

Liga Petani Membajak Tanah Eropa.

Sumber : UEFAChampionsLeague

Reporter : Adityaputra Dewantara

Pada lanjutan UEFA Champions League atau UCL ditengah pandemi covid-19 memang sedikit berbeda dari biasanya. Babak knockout yang biasanya dimainkan kandang – tandang dengan sistem 2 leg, kali ini hanya bermain sekali saja dan berada di tempat yang netral.

Kompetisi terbesar antar klub-klub hebat Eropa tersebut kembali menghadirkan kejutannya pada musim ini. Setelah munculnya Atalanta sebagai tim kuda hitam asal Italia yang langkahnya terhenti di babak quarter final atau delapan besar.

Kali ini UCL kembali menghadirkan kejutan, untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir. Tidak ada tim asal Spanyol di Semi Final UCL. Ini merupakan kejutan yang luar biasa. Selain hal tersebut, jika musim lalu all england final menguasi kompetisi Eropa, pada musim ini jagoan Inggris juga tumbang di tangan Liga Petani.

Sebut saja Perancis dan Jerman, kedua negara yang dinilai para penggemar sepakbola di seluruh dunia sebagai liga petani karena tidak ada persaingan yang ketat dalam perebutan juara. Hampir satu dekade ini Paris Saint Germain (Perancis) dan Bayern Munchen (Jerman) dengan mudah secara berturut-turut menjuarai liga domestik.

Namun siapa sangka, sang petani lainnya, Lyon (Perancis) justru berhasil menumbangkan raksasa Italia, Juventus dan raksasa Inggris, Manchester City hingga sampai saat ini melaju hingga semi final UCL. Tidak hanya Lyon, RB Leipzig (Jerman) yang merupakan klub yang baru dibentuk pada tahun 2009 ini berhasil menyingkirkan Atletico Madrid (Spanyol) yang partai sebelumnya mempermalukan Liverpool sebagai juara bertahan UCL dari Inggris.

Sangat mengejutkan, dengan lolosnya Paris Saint Germain dan Lyon sebagai perwakilan dari Perancis serta Bayern Munchen dan RB Leipzig dari Jerman. Menandakan bahwa liga petani yang dianggap sebelah mata dapat membajak tanah Eropa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *