Shadow

Gangguan Bipolar, Antara Stigma dan Fakta

Sumber: pixabay.com

Reporter: Mutiara Nur Shafira Aryandhini

Menurut Kementrian Kesehatan, gangguan bipolar merupakan gangguan jiwa yang bersifat episodik dan ditandai oleh gejala-gejala manik, hipomanik, depresi, dan campuran. Biasanya rekuren serta dapat berlangsung seumur hidup. Secara umum, gejala manik berupa keadaan di mana penderita merasakan energi berlebih, gejala hipomanik merupakan manik yang tidak terlalu tinggi, depresi merupakan keadaan penderita merasakan keputusasaan yang mendalam, dan gejala campuran berupa gabungan episode manik dan depresi.

Rendahnya pengetahuan masyarakat umum mengenai kesehatan jiwa berdampak pada penderita gangguan jiwa yang mendapatkan stigma yang salah. Pada gangguan bipolar itu sendiri, terdapat beberapa stigma terhadap penderita gangguan bipolar.

Pertama, gangguan bipolar merupakan mood swing. Banyak masyarakat awam yang berpendapat bahwa gangguan bipolar sama seperti mood swing. Kenyataannya, mood swing umum terjadi pada semua orang, terutama pada wanita. Namun bipolar merupakan gangguan yang membutuhkan diagnosis profesional sehingga tidak semua orang dapat disebut menderita gangguan bipolar.

Kedua, gangguan bipolar merupakan kepribadian ganda. Gangguan bipolar disebut dengan kepribadian ganda disebabkan karena penderita gangguan bipolar merasakan dua kutub yang berbeda. Padahal, gangguan bipolar tidak seperti kepribadian ganda yang menjadi orang dengan identitas berbeda, karena gangguan bipolar tetap dengan satu identitas sama, namun dengan suasana hati yang berbeda.

Ketiga, orang dengan bipolar dapat mengatasi gangguannya sendiri. Stigma di masyarakat mengatakan bahwa orang dengan bipolar tidak perlu menemui psikiater maupun psikolog karena hanya berupa gangguan suasana hati yang seharusnya dapat dikendalikan sendiri. Kenyataannya, gangguan bipolar termasuk dalam gangguan mental berat yang membutuhkan terapi dari psikolog dan psikiater.

Keempat, orang dengan bipolar disebut dengan gila. Masyarakat berpendapat bahwa penderita merupakan orang gila hanya karena suasana hati yang berubah-ubah dengan cepat. Padahal, gangguan bipolar tetap merupakan manusia biasa yang memiliki gangguan perasaan yang sebenarnya dapat ditangani.

Kelima, gangguan bipolar disebabkan karena penderita kurang iman. Akibatnya, penderita dilarang untuk pergi ke psikiater maupun psikolog dan hanya disarankan untuk banyak beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Padahal, penyebab dari gangguan bipolar sangatlah kompleks. Dimulai dari ketidakseimbangan zat-zat di otak, peristiwa traumatis, hingga riwayat keluarga.

Stigma yang muncul dari rendahnya edukasi yang didapat masyarakat mengenai kesehatan jiwa membuat kita mengingat kembali apa yang telah dilakukan oleh pemerintah. Pemerintah sebenarnya sudah mengesahkan Undang Undang No 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa. Beberapa pegiat yang peduli dengan kesehatan jiwa juga sudah membuat “lahan” belajar masyarakat mengenai kesehatan jiwa.

Firza Salsabila, seorang Mental Health Entusiast berpendapat bahwa hal ini disebabkan belum adanya peraturan turunan mengenai UU Kesehatan Jiwa ini. Hal ini dimaksudkan agar pelayanan kesehatan jiwa dan pelayanan pendidikan berjalan optimal sehingga penyintas gangguan kejiwaan tidak merasakan stigma negatif.

Selain itu, diharapkan masyarakatpun mulai peduli dengan kesehatan jiwa masing-masing, sehingga juga akan mengurangi stigma negatif terhadap penyintas gangguan kejiwaan. Dengan berkurangnya stigma, maka akan membuat para penyintas dapat menjalani pengobatan dengan baik sehingga kondisinya dapat terkendalikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *