Shadow

Dirjen PSLB3 terus mendorong inovasi pengelolaan sampah sebagai penopang ketahanan Pangan di Kab.Bogor

Kabupaten bogor dengan cakupan wilayah yang luas dimana setiap hari sekitar + 2800 ton / hari sampah yang dihasilkan, hal ini perlu diberikan dukungan partisipasi publik untuk menyelesaikan sampah di Kab bogor sehingga target yang ditetapkan oleh Presiden 30 % adalah kegiatan pengurangan sampah dapat terealisir.
Persoalan sampah bisa diselesaikan oleh setiap rumah tangga, dengan kapasitas yang terbatas yang dimiliki pemerintah, sehingga perlu di dorong kegiatan partisipasi publik yang kuat, Karena pada hakekatnya sampah dalam undang-undang sudah diamanahkan merupakan tanggung jawab individu yang wajib mengurangi dan mengeola sampahnya, minimal ada upaya untuk mengurangi dan mengelola sampah, Direktorat Pengelolaan sampah Dirjen PSLB3 akan terus mendorong dan memfasilitasi upaya – upaya yang berkesinambungan sehingga dapat menjadi langkah konkrit untuk ditindaklanjuti dalam pengurangan sampah di Indonesia khususnya Kabupaten Bogor melalui kegiatan webinar ini, ungkap Nofrizal Tahar selaku Direktur Pengelolaan Smapah Dirjen PSLB3 Kementrian KLHK

Diungkapkan pula bahwa dari komposisi sampah kita 55 – 60% merupakan sampah organik dan punya potensi yang besar untuk menjadi kompos dan pupuk, juga dapat dikembangkan menjadi budidaya dengan tehnologi maggot dan menghasilkan produk untuk bahan baku pakan ternak, perikanan dan perternakan juga pupuk padat serta cair, dengan webinar ini diharpkan ada impac yang baik kepada kita untuk menhghasilkan kultur dan kebiasaan mengolah sampah di rumah, menjadi keharusan punya kompos di rumah, minimal dibuat kompos untuk tanaman sendiri untuk sayur mayur, tanaman obat dan bunga dari kompos yang kita produksi, apalagi dengan situasi pasca pancemi banyak yang berada di rumah sehingga gerakan ini bisa didorong sehingga kebutuhan seperti cabe, tomat, sayur bayam, kankung dll bisa kita sediakan di rumah dari sumber sampah dapur dan organik yang kita kelola.
dengan pariispasi publik dan ini menjadi gerakan ketahanan pangan sehingga menjadi energy yang positif bagi persoalan pangan kita, dan dapat menjadi aksi konkrit setelah mengatasi ketahanan pangan melalui pengelolaan sampah.

Hal senada ditambahkan oleh Kadis LH Kab Bogor Asnan.AP bahwa Sampah Kab bogor yang terdiri dari 40 kecamatan dengan penduduk yang hampir 1 Provinsi 5,8 Jt jiwa sehingga jumlah sampah yang dihasilkan sangat besar sekitar + 2900 ton per hari , yang baru bisa diangkut hanya 600 ton / hari jadi masih sekian ribu ton yang belum tertangani, baru 1 unit TPA sehingga sangat berat beban di Kabupaten bogor, pola penanganan sampah saat ini kami coba pola 3 R ungkap Asnan dalam kesempatan Webinar Mengubah sampah Menjadi Berkah dalam menopang Ketahanan Pangan Di kabupaten Bogor,
Sampah rumah tangga / organik hampir 43 % dan pemanfaatan sampah sedang didorong beberapa KRL dan Eco Viillage yang di dorong pemberdayaan masyarakat dan bekerjasama dengan BUMDES di setiap Desa untuk mengolah sampah rumah tangga sendiri melalui Bank sampah per Desa, di TPA Galuga ada pengelolaan air sampah yang dijadikan pupuk cair untuk tanaman, dan hasilnya cukup bagus untuk pertanian dan Dinas Lingkungan Hidup Kab Bogor mencatat kenaikan smapah saat pandemik sekitar 15 %, untuk sampah plastik di Kecamatan Tenjo masyarakat memanfaatkan sampah plastic keras menjadi BATA / Conblock dan unk sisa makanan dengan pola kampung ramah lingkungan untuk kompos dan ternak sehingga hal ini minimal mampu mengurangi beban TPA Galuga di Kabupaten Bogor.
Berbagai Kebijakan pemerintah Kabupaten Bogor juga dilakukan dengan Pergub pembatasan penggunaan plastic dan sterofon sejak 2018, DLH juga mendorong pemberdayaan masyarakat di desa untuk mengolah dan memilah sampah dapat bermanfaat , yang kita terus dikembangkan dari KRL di setiap desa. Asnan juga mengatakan akan terus mensuport berbagai kegiatan komunitas terutama dalam menopang ketahanan pangan.

Dalam kesempatan yang sama Paguyuban Maggot Nusantara menghimbau untuk mau melakukan kegiatan pemanfaatan sampah ini sebagai ibadah dan saat ini pengelolaan sampah dari Maggot sangat memiliki nilai ekonomis jika ini dikembangkan oleh masyarakat apalagi dapat dikaitkan dengan sektor ketahanan pangan seperti pertanian, peternakan dan perikanan.
Dalam kesempatan yang sama Aldi Supriyadi selaku Ketua Himpunan Petani Peternak Millenial Indonesia mengungkapkan bahwa Di masa pandemi, pertanian menjadi salah satu sektor yang masih tumbuh positif. Harus dilakukan berbagai upaya untuk mendongkrak kinerja sektor pertanian untuk menyelamatkan perekonomian nasional.
“Pada kuatal II 2020 ini, BPS mencatat ada 2 sektor yang pertumbuhan PDB nya positif atau berkontribusi terhadap PDB nasional, yaitu pertanian dan telekomunikasi. Sektor pertanian paling tinggi kontribusinya yakni 16,24 persen, sementara telekomunikasi hanya 1,29 persen. Ini adalah bukti sektor pertanian tidak terkena dampak akibat tantangan apapun sehingga kita harus bersinergi memperkuatnya ke depan”
Maka Penanganan Sampah di tenggah kondisi saat ini juga diperlukan kolaborasi dan penguatan kelembagaan dari Himpunan Petani Millenial mengharapkan adanya pengelolaan sampah yang terintegrasi melalui adanya regulasi dan sarana pemilahannya dimulai dari tingkat masyarakat terkecil di tingkat rumah tangga, dan jika hasil pengelolaan sampah sudah mencapai skala besar dapat dikembangkan jejaring komunitas agar dapat dimanfaatkan untuk dipergunakan di sector pertanian sehingga petani atau peternak dapat menekan biaya perawatan pupuk yang mahal sehingga akan menopang sector ketahanan pangan jika pola tersebut dapat dikembangkan, serta menjadi stimulus ekonomi di tengah situasi pasca pandemi ini, ungkap Aldi .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *