Shadow

Aku, Kamu, Kami, Mereka, dan Kita adalah Indonesia

Yayat Supriatna

(Penulis Adalah Praktisi Pendidikan Indonesia Tinggal di Kabupaten Bogor)

Belakangan jagad media social disibukan dengan terminology “kami” dan “kita”. Sebagian tokoh bangsa menyatakan beberapa ketidaksetujuan atas kebijakan negara yang diasumsikan bahwa, “negara harus diselamatkan”. Kemudian mereka mendeklarasikan sebagai gerakan dalam bentuk Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Namun diseberang mereka (pemerintah dan pendukungnya) merasa “KAMI” sebagai sebuah gerakan bisa memberikan gangguan dan ancaman. Para pendukung pemerintah mengeluarkan antithesis melalui wacana “KITA”. Untuk itu, maka penulis ingin mengomentari atau terlibat dalam diskursus ini.

Manusia dalam menjalani hidup (individu) dan kehidupan (social) akan mendapati beberapa ruang yang harus diterima, dihadapi, dijalani dan pada akhirnya dilalui untuk berada dalam ruang keabadian. Ruang kehidupan itu diawali dari ruang privat, yang harus diterima, tidak bisa ditawar, apalagi ditolak, ia ada dengan sendirinya dengan segala keunikannya yang tidak ada siapapun bisa menggantikannya. Selanjutnya ruang itu bergeser sedikit untuk membentuk ruang keluarga, kemudian melebar menjadi ruang kelompok (masyarakat) dengan berbagai identitasnya (suku, ras, agama) dan akhirnya meluas masuk ke ruang public. Ruang public adalah sebuah ruang kehidupan dimana segala peristiwa hadir memberi warna menghiasi dinamika kehidupan, ada yang menyenangkan dan ada pula yang mengecewakan dan menyengsarakan.

Diruang privat kita hanya mengenal “Aku” dengan segala harapan dan keinginan, kemudian bergeser mengenal “Kamu” dengan harapan dan keinginan yang berbeda, selanjutnya bergerak menjadi “kami” dengan disatukannya harapan dan keinginan melalui kepercayaan dan kebudayaan, selanjutnya bertemu dengan “Mereka” yang memiliki kepercayaan dan kebudayaan yang berbeda. Dalam proses sosio-historis ini akhirnya manusia harus menerima kenyataan untuk menjadi “Kita” hidup bersama dalam keragaman dan perbedaan. Dengan keragaman dan perbedaan itulah maka ada semangat untuk saling mengetahui, mengerti, dan memahami.

Mengetahui, mengenali, dan memahami “aku” dan “kami” secara benar dan baik, akan memudahkan untuk mengenali “kamu” dan “mereka” secara benar dan baik pula, yang akhirnya akan bertemu diruang “kita” secara dekat, akrab, hangat, dan harmoni. Untuk bertemu diruang kita, setiap diri, kelompok harus jujur, terbuka, rendah hati, dan bertanggungjawab. Karena manusia hakikatnya akan mengangguk pada yang benar dan yang baik.

Indonesia adalah ruang kehidupan yang sangat luas terbentang dari Sabang sampai Merouke, dimana ragam ras/suku, adat istiadat, bahasa, dan agama mencoba memberi identitas bagi Indonesia. Berjejalnya ruang komuniti membuat daya tawar setiap komuniti menjadi sangat dinamis. Indonesia melalui empat pilar kebangsaan (baca : Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika) merupakan produk kontrak sosial yang pernuh warna (baca : polemik dan intrik). Dari hasil kontrak sosial inilah maka NKRI merupakan proses yang sudah berhenti (baca : final) dan telah menjadi ”harga mati”.

Indonesia, sebagai ruang public telah menjadi ajang pertarungan dalam memperebutkan kepentingan dan pengaruh atas nama agama, ekonomi, politik dan kelompok. Pertarungan dalam memperebutkan hegemoni inilah yang membuat keadaan menjadi disharmoni. Negara, dalam hal ini sebagai ruang politik diberi wewenang penuh untuk mengendalikan dan menjinakan kegaduhan diruang public.

Dalam teori politik, setidaknya ada 3 alat integrasi sebuah bangsa / negara:
1. Integrasi Normatif
Jika negara diletakan dalam teori sistem, maka falsafah / pandangan dunia / ideology berada diatas menjadi pedoman dan panduan dalam bernegara. Masalahnya adalah, apakah falsafah / idologi negara itu fungsional atau ada dan hidup dalam pikiran, perasaan, dan perilaku penyelenggara negara? Dimana kebijakan kebijakannya lahir dari spirit falsafah / ideologinya. Atau ia hanya sebagai utopia yang berada diatas langit jingga konsepsional. Ideology / falsafah sebuah negara seharusnya menjadi alas bagi sub-sistem lainnya yang akan dibentuknya. Apakah sistem ekonomi, politik, pendidikan, social dan budaya sudah relevan dengan ideology / falsafah bangsa?. Pancasila sebagai sebuah falsafah / ideologi bangsa sudahkan berfungsi dalam membentuk identitas bangsa, menyatukan perbedaan dan keragaman, dan mengarahkan tindakan yang solutif bagi persoalan bangsa?
2. Integrasi Fungsional
Tujuan negara secara normative adalah mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Negara dalam hal ini bertanggungjawab memfungsikan seluruh masyarakatnya, hingga tidak ada satu orang pun atau kelompok masyarakat yang disfungsi. Pengangguran dan kemiskinan akan menjadi indicator yang jelas bagi berfungsi tidaknya sebuah negara. Ketika integrasi fungsional ini tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka masyarakat dengan segala kepentingannya akan mencari fungsi yang lain untuk bertahan dan tumbuh, yang bisa jadi membahayakan eksistensi negara.
3. Integrasi Koersif
Pilihan terakhir dari ketidak berdayaan atau ketidak mampuan negara dalam menjaga keutuhannya adalah dengan melakukan tindakan pemaksaan melalui alat hukumnya. Jika Negara bisanya menakuti dan mengancam masyarakat, ini adalah bukti dari ketidak percayaan diri atau ketidakmampuan dirinya dalam mengelola negara secara benar dan baik.
Menurut Almarhum Cak Nur (Nurcholis Madjid) bahwa budaya feodalisme dimana kekuasaan sama dengan kekayaan telah merusak sendi sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Kekuasaan seharusnya dijalankan sebagai tugas suci, mulia, dan terhormat, dibajak oleh kepentingan kekayaan, maka akhirnya kekuasaan dijadikan alat untuk mencari, menghimpun dan menimbun kekayaan. Akibatnya, ”kita” sebagai sebuah bangsa-negara terdegradasi kembali menjadi menjadi ”kami”, ”mereka”, ”aku”, dan ”kamu” yang saling curiga dan saling tidak percaya. Licik, pisik, licin, culas dan hipokrit menjadi budaya baru bangsa ini.

Kita perlu mendefiniskan ulang / merubah / memperbaiki makna ”kekitaan” selaku bangsa dan negara. Kita perlu mempertanyakan kembali ”untuk apa kita menjadi Indonesia?” dan ”untuk apa kita berbangsa dan bernegara?”

Ketidaksetujuan adalah ujian bagi keutuhan, kesatuan, persatuan, dan persaudaraan bangsa!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *