Shadow

Potret Pesona Lawang Sewu, Mulai dari Arsitektur Hingga Sejarah!

fotografer: Mutiara Nur Shafira Aryandhini

Reporter: Mutiara Nur Shafira Aryandhini

Lawang Sewu merupakan salah satu gedung bersejarah yang terletak di kota Semarang. Gedung yang merupakan milik PT Kereta Api Indonesia ini awalnya digunakan sebagai kantor perusahaan kereta api swasta, yaitu Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Bangunan gedung Lawang Sewu dibuat dengan arsitektur khas oleh seorang Belanda bernama Prof. Jacop K. Klinkhamer dan BJ Oendaag pada awal abad 20.

Dengan membayar tiket seharga Rp. 10.000 untuk dewasa dan Rp. 5.000 untuk anak-anak serta pelajar, pengunjung dapat menikmati keindahan arsitektur Lawang Sewu yang dinobatkan sebagai karya arsitektur terbaik di Indonesia pada dekade pertama abad XX. Bangunan yang memiliki desain menyerupai huruf L ini memiliki jumlah jendela dan pintu yang banyak sebagai sistem sirkulasi udara. Hal ini pula yang menyebabkan masyarakat sekitar menamai gedung tersebut dengan nama Lawang Sewu. Lawang memiliki arti pintu, dan Sewu memiliki arti seribu. Meski begitu, jumlah pintu yang berada di dalam gedung ini tidak mencapat seribu.

Sejak 5 Juli 2011, telah dilakukan peresmian Purna Pugar Cagar Budaya Gedung A Lawang Sewu yang membuat Lawang Sewu kini digunakan sebagai museum koleksi perkeretaapian dari masa ke masa di Indonesia. Lawang Sewu memiliki beberapa gedung yang memiliki fungsinya masing-masing. Misalnya, pada gedung A atau gedung pamer, digunakan sebagai museum koleksi foto-foto lawas perkeretaapian, dimulai dari proses pembuatan jalur kereta api, foto perkembangan stasiun kereta api di berbagai daerah di Indonesia, hingga perkembangan kereta rel listrik atau KRL yang beroperasi di Jabodetabek.

Sementara itu, gedung B atau gedung komersial yang terdari tadi tiga lantai merupakan gedung tambahan ketika kebutuhan ruang kerja pada masanya sudah tidak memadai. Gedung ini dibangun pada tahun 1916 dan selesai pada tahun 1918. Gedung B kini dapat disewakan pada masyarakat luas, seperti kegiatan pameran, pemotretan, shooting, pesta pernikahan, festival, bazar, dan lain-lain.

Selain gedung A dan B, terdapat pula gedung C dan gedung perpustakaan. Gedung C berfungsi sebagai ruang pameran, yang berisi tentang informasi rinci pemugaran Lawang Sewu, sejarah Lawang Sewu, bahkan ada pula koleksi genteng, kaca, lantai, batu bata hingga pengawet kayu yang digunakan untuk pembangunan dan pemugaran Lawang Sewu selama ini. Sementara gedung perpustakaan berisi buku-buku sejarah perseroan dari masa ke masa, dan terdapat pula lukisan-lukisan bangunan Lawang Sewu.

Nah, itu dia potret keindahan arsitektur dan sejarah Lawang Sewu. Sudah ada rencana untuk berkunjung ke Lawang Sewu?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *