Shadow

Mengenal Distimia, Depresi Ringan yang Berkepanjangan

Sumber: Freepik.com

Reporter: Mutiara Nur Shafira Aryandhini

Distimia merupakan jenis lain dari depresi dengan ciri merasa berkesedihan secara berkepanjangan. Depresi pada distimia tidak separah gangguan depresi mayor, namun tetap saja distimia akan mengganggu kehidupan penderitanya.

Seseorang dengan distimia akan merasakan mood depresi selama kurang lebih dua tahun. Selain itu, adanya nafsu makan yang berkurang atau berlebihan, mudah kelelahan, tidak memiliki kepercayaan diri yang baik, mengalami gangguan tidur seperti insomnia atau hipersomnia, sulit konsentrasi, hingga hilangnya minat terhadap sesuatu yang menyenangkan.

Namun perlu diingat. Apabila kamu mengalami ciri-ciri seperti di atas, kamu dilarang untuk mendiagnosis dirimu sendiri menderita distimia. Diperlukan observasi mendalam oleh profesional untuk mengetahui apa yang terjadi pada dirimu ya. Maka dari itu, apabila mengalami ciri di atas, jangan ragu untuk menemui profesional, ya.

Distimia dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, yaitu faktor genetik, yaitupabila dalam silsilah keluarganya terdapat riwayat gangguan depresi atau gangguan suasana perasaan. Faktor kedua, yaitu peristiwa traumatis yang terjadi di masa lalu seperti kehilangan keluarga. Faktor ketiga, yaitu adanya fungsi abnormal di otak.

Karena label ‘ringan’ tersebut, distimia seringkali tidak disadari. Mereka menganggap perasaan sedih yang melanda hanyalah sedih biasa dan akan hilang dengan sendirinya. Selain itu, pada distimia, seseorang masih bisa melakukan aktivitasnya sehari-hari.

Selain sering tidak disadari, distimia juga masih disepelekan oleh sebagian orang. Kata ‘ringan’ yang melabelinya membuat orang dengan distimia memilih bungkam dan membiarkannya hilang dengan sendirinya. Padahal, apabila tidak ditangani, dapat muncul depresi berat secara bersamaan, dan disebut dengan double depression.

Penanganan distimia dapat dilakukan oleh profesional seperti psikolog dan psikiater. Terapi yang dapat dilakukan yaitu psikoterapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), Terapi Keluarga, dan Terapi Kelompok. Apabila dibutuhkan, psikiater akan memberikan terapi obat-obatan. Selain itu, kamu bisa membantunya dengan menjalani pola hidup yang sehat, seperti makan yang teratur, olahraga dan tidur yang cukup.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *