Di Tengah Pandemi Covid 19, HPPMI Hidupkan Ribuan Hektare Lahan Tidur

BOGOR – Di tengah Pandemi Covid 19 yang membuat berbagai sektor usaha melemah, Himpunan Petani dan Peternak Milenial Indonesia (HPPMI) terus melakukan berbagai upaya untuk menggeliatkan pertanian di kalangan Milenial, dan memperluas lahan untuk bercocok tanam. Organisasi yang belum genap satu tahun berdiri tersebut, telah menggelontorkan miliaran rupiah untuk menghidupkan lahan tidur menjadi lahan pertanian produktif.

Ketua Umum Himpunan HPPMI, Aldi Supriadi mengatakan, saat ini HPPMI fokus membina para petani dan menggelontorkan permodalan untuk memperluas lahan pertanian. HPPMI juga telah menerapkan sistim manajemen modern dalam pengelolaan pertanian dengan tujuan meningkatkan nilai ekonomi dan mensejahterakan para petani.

“Bertani itu harus diawali niat sungguh-sungguh dan didukung permodalan yang cukup, kalau kita bertani setengah- setengah dan tidak menggunakan sistem bertani yang baik kita akan merugi,” ujar pria yang akrab disapa Aldi ini kepada sejumlah wartawan, Senin (11/5).

Menurut Aldi, dengan jarak tanam yang pendek sebagai tanaman tumpang sari untuk menunggu hasil panen tanaman tahunan, para petani di HPPMI sudah mulai dapat menggunakan hasil panen untuk biaya operasional pemeliharaan lahan. “Untuk menunggu tanaman yg biasa dipanen jangka waktu satu tahun seperti pisang dan kopi, kami tanam sayur mayur dengan jarak panen 40 hari, sayur mayur tersebut dapat membiayai operasional sampai panen besar seperti tanaman kopi dan pisang dan lainnya,” kata Aldi.

Saat ini bidang pertanian yang telah dikembangkan oleh HPPMI, dari mulai tanaman padi sampai dengan rempah rempah, dan sayur mayur. HPPMI juga sudah mengembangkan ribuan hektar lahan tidur yang tersebar di lima provinsi antara lain, Jawa Barat, Banten, DIY, Kaltim dan Prov Kalbar.

Secara struktur, HPPMI telah terbentuk di lima Provinsi, dan beranggotakan ribuan petani. Uniknya, sebagian besar Pengurus Provinsi atau Dewan Perwakilan Daerah, memiliki latar belakang yang berbeda-beda, tidak semuanya petani. “Ada pengusaha property, wartawan, PNS , TNI, POLRI, dan lainnya, mereka memang bukan petani tetapi lahir dari keluarga petani, orang tua kita dulu petani,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, motivasi alih profesi ke sektor pertanian juga karena melihat prospek bisnis sektor pertanian yang menguntungkan. “Mereka yang berlatar belakang pengusaha tertarik bertani karena melihat potensi ekonomi yang menguntungkan, dan menjalankan imbauan Pemerintah mengenai ketahanan pangan. Karena ketahanan pangan merupakan kunci ketahanan nasional,” tandasnya (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *