Shadow

Dampak Corona Virus Disease 19 (Covid-19) Untuk Para Nasabah Debitur/Debitor

 

Oleh : Ahmad Bahroin,.SH
KETUA PAC GP.ANSOR KEC.BENDA

Pandemi Virus Corona/Covid-19 ke Indonesia yang berasal dari Wuhan Tiongkok, bukan hanya merenggut korban nyawa manusia, tapi juga mempengaruhi perekonomian masyarakat. Hal tersebut disebabkan tutupnya sebagian lembaga-lembaga negeri, swasta, perusahaan, dan perdagangan sehingga menimbulkan ketidakstabilan penghasilan ekonomi bahkan sampai ada yang kehilangan penghasilan.

Oleh karena itu, permasalahan serta keresahan timbul pada setiap nasabah debitur/debitor yang masih memiliki angsuran atau tunggakan kreditan berupa rumah, mobil, motor, dll.

Bahwasanya sebagai nasabah debitur/debitor telah diberikan kebijakan untuk tidak membayar atau memutus sementara angsuran atau kreditannya selama pandemi covid-19 ini masih berlangsung.

Syaratnya Pihak Debitur/Debitor mengajukan kepada pihak Kreditur/Kreditor, meminta surat permohonan pengajuan terkena dampak Covid-19, karena Covid-19 merujuk dalam golongan Bencana Non Alam.

Sebagaimana yang telah di atur oleh Keppres No. 12 tahun 2020, Keppres No. 11 Tahun 2020, PP No. 21 tahun 2020 dan UU No. 24 Tahun 2007. Produk hukum ini menyimpulkan Covid-19 sebagai bencana nonalam berskala nasional (bencana nasional). Bencana di dalam UU No. 24 Tahun 2006 dibagi tiga yaitu bencana alam, bencana nonalam dan bencana sosial atau bisa juga disebut dengan Pasal ( Force Majeure ) adalah keadaan yang terjadi di luar kemampuan manusia sehingga kerugian tidak dapat dihindari.

Dalam hal ini Pasal tersebut berbunyi :
Pasal 1244 KUH Perdata menyebutkan :
Debitur harus dihukum untuk mengganti biaya, kerugian dan bunga. Bila ia tak dapat membuktikan bahwa tidak dilaksanakannya perikatan itu atau tidak tepatnya waktu dalam melaksanakan perikatan itu disebabkan oleh sesuatu hal yang tak terduga, yang tak dapat di pertanggungkan kepadanya. Walaupun tidak ada itikad buruk kepadanya”.

Pasal 1245 :
Tidak ada penggantiaan biaya kerugian dan bunga. Bila karena keadaan memaksa atau karena hal terjadi secara kebetulan, debitur terhalang untuk memberikan atau berbuat sesuatu yang di wajibkan, atau melakukan suatu perbuatan yang terlarang baginya”.

Mengacu pada pasal tersebut, setiap Debitur/Debitor tidak usah bingung akan Angsuran ataupun Kreditannya yang masih dijalaninya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *