Kita dan Ikhtiar Melawan Corona

“Sekarang saatnya diam, ridho dengan sedikit makanan dan diam di rumah.”

Pesan tersebut, masuk melalui WhatsApp Group dan menyebar secara berantai. Pesan ini datang di saat kepanikan kita menghadapi wabah Corona Virus Disaese 2019 (COVID-19) yang sampai hari ini sebarannya semakin parah dan melanda hampir ke semua negara dunia.
Pesan ini begitu kuat disaat demi kebaikan bersama kita terpaksa harus membatasi aktifitas keseharian kita yang berpotensi meluasnya penularan virus mematikan tersebut. Belajar, bekerja dan beribadah di rumah adalah keadaan yang tentu saja akan berdampak sangat luas, terutama terhadap kondisi ekonomi kita dalam beberapa waktu ke depan.

Wabah Corona yang belum terkendali ini, membawa kita pada bayang-bayang krisis ekonomi. Bahkan, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) telah menyatakan ekonomi dan keuangan global saat ini tengah mengalami krisis akibat pandemi virus corona (COVID-19). Lantaran virus ini telah mewabah di hampir seluruh negara dan sekaligus melumpuhkan ekonomi.
Krisis ekonomi dan keuangan global cepat atau lambat tentu bakal turut memengaruhi perekonomian Indonesia. Sektor yang pertama kali terpukul oleh krisis tersebut adalah sektor produksi dan pengeluaran.

Karena itu, kita harus melebarkan hati sedikit lagi, agar bisa menerima kenyataan dan berjuang bangkit dari keadaan yang tidak kita inginkan ini.

Mungkin hanya sedikit dari kita yang tetap mendapat penghasilan saat mengurung diri di rumah. Sementara sebagian besar lainnya, aktifitas isolasi diri yang sedang diberlakukan secara serentak, sama halnya dengan terhentinya sumber-sumber pendapatan harian. Celakanya, kita masih belum bisa memperkirakan dengan pasti, kapan wabah ini akan berlalu. Hampir semua Pemerintah Daerah memperpanjang masa tanggap darurat penanganan wabah Corona yang tadinya hanya 14 hari menjadi 28 hari, dan bahkan lebih lama dari itu.

Isolasi diri dalam beberapa waktu ke depan akan berakibat terjadinya perlambatan ekonomi. Daya beli masyarakat akan menurun. Padahal di waktu bersamaan setiap orang sedang sangat membutuhkan ketahanan tubuh dengan asupan gizi seimbang, memperbanyak konsumsi vitamin, sterilisasi diri dan lingkungan untuk terhindar dari penularan virus. Tentu saja, kita memerlukan uang untuk memenuhi semua itu.

Disisi yang lain, kepanikan menghadapi wabah ini membuat kita tidak rasional dalam membelanjakan uang. Ada yang menghabiskan ratusan ribu hingga jutaan rupiah hanya untuk membeli cairan disinfektan, masker, dan Hand Sanitizer, yang harganya sudah naik berlipat-lipat. Barang tersebut memang kita butuhkan, tapi fungsinya bisa kita dapat dari bahan lain yang harganya jauh lebih murah.

Lagipula, saat ini pemerintah dibantu swasta sedang bahu membahu melakukan kegiatan sterilisasi, khususnya kegiatan penyemprotan disinfektan. Tenaganya ada, dan sudah dibekali peralatan pelindung diri. Uangnya juga cukup, disediakan oleh negara. Hal penting dilakukan oleh kita adalah mengikuti arahan untuk menjaga jarak kontak fisik, diam di rumah, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, meningkatkan ketahanan diri dan keluarga dengan mengkonsumsi gizi seimbang. Karena ini yang barangkali, Pemerintah akan kewalahan untuk memenuhi kebutuhan jutaan rakyatnya secara berbarengan.

Dan yang perlu disadari, Pola hidup bersih dan sehat ini tidak selalu harus dengan barang-barang yang harganya sudah jadi mainan pelaku usaha tidak bermoral itu. Cukuplah cuci tangan dengan sabun di air mengalir secara rutin, dan konsumsi makanan bergizi seimbang. Untuk ini saja, kita harus menghitung kekuatan kita dalam beberapa hari ke depan. Bagi yang punya kelebihan rejeki, lihat kanan kiri tetanggamu dan bantu mereka dengan itu. Insya Allah ini jauh lebih bermanfaat, dan semestinya disitulah posisi kita dalam melawan Corona. (*)

 

Saeful Ramadhan

Sekretaris LESBUMI PCNU Kota Tangerang 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *