Karhutla Sudah Cukup Reda

KlikJakarta – Kejadian bencana alam di Indonesia dengan rentang waktu Januari-September 2019 ada 2.829 bencana yang menyebabkan 464 jiwa meninggal dunia dan hilang.

Bencana alam yang paling banyak terjadi adalah tanah longsor dan banjir. Sementara, untuk perbandingan, dalam waktu satu tahun pada 2018-2019 terjadi 2.561 bencana alam.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Pusdatinmas BNPB) Agus Wibowo di Diskusi Media Forum Merdeka Barat 9 (Dismed FMB’9) dengan tema “Penanganan Bencana” di Kantor BNPB, Jakarta, Rabu (2/10/2019).

“Bencana paling banyak terjadi di Jawa, berikutnya Sumatera. Provinsi paling banyak berurutan Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Aceh dan Sulawesi. Sedangkan kabupaten yang paling banyak adalah Bogor dan Semarang,” ungkap Agus.

Untuk gempa bumi yang terjadi di maluku belum lama ini, Agus menjelaskan korban meningal dunia ada 28 jiwa, korban luka 150 jiwa, dan pengungsi ada 115.290 jiwa. Dan wilayah terdampak gempa ada di Kota Ambon, kabupaten Maluku Tengah, dan Kabupaten Seram Bagian Barat.

“Pengungsi diimbau untuk kembali ke rumah masing-masing ketimbang tinggak di pengungsian karena lebih nyaman tinggal di rumah,” ujar Agus.

Upaya yang dilakukan BNPB, menurut Agus, melakukan pendampingan kepada Pemprov Maluku, Pemkab Maluku Tengah, Pemkot Ambon dan Pemkab Seram Bagian Barat. “BNPB, BNPD dan relawan melakukan penangangan di saat tangap dsarurat,” ujarnya.

Data korban yang paling banyak terjadi, Agus menjelaskan, di Kota Ambon karena di wilayahnya perkotaan dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Rumahnya juga padat sehingga banyak korban yang tertimpa rumah. Untuk bantuan BNPB menggelontorkan senilai Rp 1,8 miliar.

Penanganan Karhutla

Dari sisi hotspot, Agus menjelaskan, Karhutla sudah cukup reda. Di Riau sudah menurun karena sudah banyak hujan yang turun. Yang masih ada sisa asap di Jambi dan Sumatera Selatan.

“Riau menurun karena sudah masuk musim hujan. Kondisi kekeringannya mengarah ke lampung tapi masih sedikit,” jelas Agus.

Untuk kalimantan, lanjut Agus, sebagian besar kondisi sudah cukup bagus. Yang masih ada asap di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Di pulau Jawa, ada beberapa gunung yang ada api menyala. “Luas Karhutla secara keseluruhan se-Indonesia mencapai total 328.722 ha,” ungkap Agus.

Upaya yang dilakukan, menurut Agus, membangun sekat kanal untuk mencegah perluasan karhutla agar airnya naik. Sebaran bencana kekeringan tersebar hampir merata di seluruh Indonesia.

“Kami mengimbau pembuatan umbung-umbung hingga siap ke depannya. Langkah yang dilakukan, melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), droping air bersih, penambahan jumlah tanki, hidran umum, pembuatan sumur bor dan kampanye hemat air,” pungkas Agus.

Turut hadir sebagai narasumber dalam FMB 9 kali ini antara lain Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG Indra Gustari, Kasubdit Kemitraan dan Masyarakat Peduli Api Direktorat Pengendalian Karhutla KLHK Purwantio, Kepala Bidang Evaluasi dan Informasi Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Ira Cyndira Tresna, Peneliti Utama UPT Hujan Buatan BPPT Edvin Aldrian, Direktur Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup Ditjen Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan KLHK Jasmin Ragil Utomo, Ketua Pokja Karhutla UGM Azwar Maas, Kepala Deputi Penelitian dan Pengembangan BRG Harris Gunawan, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, dan Kepala sub bidang mitigasi gunungapi (PVMBG) Kementerian ESDM Devy Kamil Syahbana.

Kegiatan FMB 9 juga bisa diikuti secara langsung diwww.fmb9.go.id, FMB9ID_ (Twitter), FMB9.ID(Instagram), FMB9.ID(Facebook), dan FMB9ID_IKP (Youtube). (nbh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *