HARI SANTRI NASIONAL 2019 DI KOTA BOGOR

KLIK BOGOR – Peringatan Hari Santri Nasional tahun 2019 tingkat Kota Bogor, berlangsung khidmat dan meriah. Sedikitnya 3.000 santri dari berbagai pondok pesantren di Kota Bogor ikut andil bagian dalam peringatan yang diisi dengan kirab yang dimulai dari Balai Kota Bogor, Jalan Ir H Juanda dan berakhir di GOR Indoor Pajajaran, Jalan Pemuda.

Tampak dalam rombongan Wali Kota Bogor Bima Arya dan jajaran Pimpinan DPRD Kota Bogor, perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, pimpinan partai politik, Badan Sosial Lintas Agama (Basolia) dan tokoh Bogor lainnya ikut larut dalam kegiatan tersebut.

Bima Arya bersama rombongan tampak kompak mengenakan peci, sarung, koko dan sandal. Mereka mengikuti kirab sekitar tiga kilometer dengan berjalan kaki diiringin pasukan drumband, dan barisan Banser yang membawa bendera Merah Putih. Tak ketinggalan, mereka juga memegang tangkaian bunga yang dimaksudkan sebagai simbol perdamaian.

Bima Arya menyebutkan sarung, peci dan pakaian koko yang dikenakan dirinya saat kirab Hari Santri bersama jajaran pimpinan DPRD Kota Bogor, para santri dan tokoh lain yang hadir merupakan simbol dari kebersamaan, keagamaan dan kebangsaan yang kuat di Kota Bogor.

“Dalam satu tahun mungkin hanya dua kali wali kota dan pimpinan dewan pakai sarung datang ke sebuah acara di Kota Bogor, yakni pertama saat Lebaran dan kedua di Hari Santri ini,” ujar Bima Arya membuka sambutan.
Bima Arya juga mengajak untuk mengingat pesan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH. Abdul Wahab Hasbullah yang menyatakan,

“Tidak ada senjata yang lebih tajam dan lebih sempurna selain persatuan.”

“Insya Allah selama NU-nya solid, Ansor-nya semangat, selama militansinya seperti tadi, maka Insya Allah Kota Bogor akan bersatu dan Indonesia akan bersatu. Kenapa? karena kita lihat akhir-akhir ini ancaman persatuan itu ada dan nyata.” tandasnya.

Ia menambahkan, ada pihak yang berusaha untuk mengarahkan Republik Indonesia ke kiri dan ke kanan. Padahal, seharusnya bangsa ini ada di tengah dengan semangat kebangsaan.

“Kita ingat pesan dari guru kita KH. Abdul Wahab Hasbullah bahwa hubbul wathan minal iman, cinta tanah air dan cinta pada bangsa adalah sebagian dari iman. Kebangsaan dan keagamaan serta ke-Indonesia-an dan keislaman. Keduanya tidak bisa dipisahkan, harus selalu digabungkan. Dan dua-duanya yang selalu diperjuangkan NU dan Ansor dari waktu ke waktu, dari masa ke masa, tidak pernah padam Insya Allah,” katanya.

Bima Arya mengajak para santri juga untuk tidak melupakan sejarah dan selalu mengikuti dan menjalankan nasihat dari para pendiri NU yang merupakan para guru yang luar biasa berusaha segenap hati dan sepenuh jiwa untuk menjaga kebersamaan.

Para guru dan para senior, baik yang tinggal di Bogor maupun daerah lain di Indonesia adalah sosok yang seimbang kehidupannya dan tauladan perilakunya. “Mereka adalah santri, kyai, pemikir, pengusaha dan aktivis. Lengkap semuanya. Insya Allah Kota Bogor dan Indonesia akan diwarnai oleh teman-teman Ansor terus,” imbuh Bima.

“Bukan saja aksinya, tetapi diskusinya juga. Kita ingat semangat dari para pendiri NU mendirikan forum diskusi, Tashwirul Afkar. Formulasi gagasan, pemikiran yang menembus batas zaman. Semoga ansor Kota Bogor bisa menyumbangkam ide dan pemikirannya untuk berkontribusi membangun Kota Bogor, melebihi zamannya,” tambahnya.

Ketua GP Ansor Kota Bogor, Rachmat Imron Hidayat (Gus Romi) menyebutkan hari santri adalah anugerah yang mesti disyukuri. Sebab, kata dia, melalui Hari Santri ini menunjukan eksistensi kita dalam sejarah perjuangan bangsa bagi negara dan masyarakat luas.

“Kemerdekaan Republik Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perjuangan para kyai dan kaum santri. Bahkan dahulu santri mengorbankan jiwanya berjihad melawan penjajahan,” ujar Gus Romi.

Bukti terhadap cinta tanah air, lanjutnya, dibuktikan juga hari ini dengan berkhidmat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dengan kehadiran kaum santri dan pesantren yang harus menjadi rahmat dan kasih sayang bagi NKRI. “Sekecil apapun yang kita lakukan sebagai santri mesti bertujuan untuk berkhidmat, bahkan kehadarian GP Ansor harus bisa memberikan manfaat dengan menolong sesama karena Ansor berarti penolong,” pungkasnya.

Peringatan Hari Santri Nasional tingkat Kota Bogor itu juga dirangkaikan dengan Pembukaan Konferensi Cabang (Konfercab) VIII GP Ansor Kota Bogor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *