Hayu Ka Bogor “Festival Pencak Silat Cimande Lestarikan Budaya Sejak Usia Dini”

Festival Pencak Silat Cimande kembali digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor pada 22-23 Juni 2019. Kegiatan ini merupakan kegiatan ke-5 setelah diselenggarakan empat tahun berturut-turut sejak tahun 2015.  Kegiatan diselenggarakan di Padepokan Penca Aliran Cimande, Desa Cimande, Kecamatan Caringin.
Menurut Kasi Kebudayaan sekaligus Ketua Panitia Festival Elly Karim, Festival Pencak Silat Cimande merupakan agenda rutin dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor yang dilakukan untuk melestarikan budaya lokal. “Kami ingin mendorong potensi Penca Aliran Cimande sebagai potensi budaya dan pariwisata,” kata Elly.
Hal ini selaras dengan pernyataan Asisten Administrasi Setda Kabupaten Bogor Yos Sudrajat dalam sambutannya saat membuka acara Festival. Menurutnya, Cimande merupakan kawasan yang sangat potensial berkembang sebagai sport tourism di Kabupaten Bogor. “Ini selaras dengan brand pariwisata Kabupaten Bogor, The City of Sport and Tourism,” terang Yos.
Penca Aliran Cimande merupakan salah satu aliran penca tradisional tertua di Indonesia. Pesilat-pesilat dari luar daerah bahkan dari luar negeri menunjukkan potensi yang sangat besar dari Penca Aliran Cimande.
Perhatian Disbudpar disambut baik oleh pemerhati Penca Aliran Cimande. Tidak kurang dari 13 kelompok terlibat dalam festival dengan jumlah total peserta mencapai 520 peserta.
Festival diselenggarakan dalam dua hari dan terbagi menjadi dua kelompok festival pasanggiri, yakni Festival Pasanggiri Cimande Original dan Festival Seni Ibing.  Kegiatan berlangsung meriah dari pagi hingga malam hari. Bahkan penutupan kegiatan pada hari kedua dilakukan pada pukul 22.00.
Kegiatan ini mengundang perhatian dari pesilat pencak silat luar negeri. Mereka datang dari Singapura, Belanda, Malaysia, dan Tajikistan. Para pesilat luar negeri ini menampilkan jurus-jurus Penca Aliran Cimande yakni Selancar pada kesempatan opening ceremony Festival Pencak Silat Cimande. Pesilat dari Belanda menampilkan jurus-jurus Penca Cimande yang sangat memukau.
Tak kalah dengan pesilat dari Belanda, Ruzaidi Abd Rahman atau dikenal dengan nama Wak Didik pesilat dari Malaysia pun tampil menawan. Wak Didik merupakan ketua Batakos Malaysia atau juara dunia. Tidak hanya menampilkan Selancaran, Wak Didik menerima ajakan rebut selempang dari Rahmat dari Federasi Pencak Silat Tradisional Internasional (FPSTI) Indonesia. Penampilan mereka mendapatkan sambutan meriah dari Asisten Administrasi Setda Kabupaten Bogor, perwakilan dari PB Ikatan Penca Silat Silat Indonesia (IPSI), peserta festival dan penonton.
Kegiatan kali ini mengusung tema “Lestarikan Budaya Tradisi Cimande Sejak Usia Dini”. Menurut Uwa Didih salah satu tetua Penca Aliran Cimande sekaligus Ketua Sanggar Saung Penca, tema tersebut sangat relevan dengan misi pengembangan Penca Aliran Cimande. “Penca Aliran Cimande dianggap berhasil bukan karena dihadiri peminat luar negeri, terkenal hingga luar negeri atau dibanjiri peserta, namun akan sangat berhasil jika tetap lestari dan diminati sejak usia dini,” kata Uwa Didih.
Hal senada dikemukakan oleh Uwa Darma, Ketua Sanggar Simha Tantra. Menurutnya, peminat Penca Aliran Cimande usia dini bahkan pradini sangat penting untuk kelangsungan Penca Aliran Cimande.
Mengingat hal tersebut, Festival Pencak Silat Cimande kali ini menghadirkan kategori baru, kategori usia pradini. Anak-anak usia di bawah 5 tahun telah sangat baik dalam menguasai Penca Aliran Cimande. Ini menunjukkan Penca Aliran Cimande tidak hanya diminati kaum dewasa atau remaja, namun anak-anak usia pradini. Sebuah harapan akan kelangsungan salah satu tradisi penca tradisional tertua di Indonesia telah hadir melalui festival ini.
Kegiatan ini diorganisasi oleh PT. Calanthe Dinata Aninya. Bersama dengan MaCDA management PT. Calanthe Dinata Aninya sebelumnya telah berhasil mengorganisasi Festival Angklung dan Festival Kaulinan Urang Lembur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *