Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC), Rumah Nyaman Gajah Indonesia

Klik Simalungun – Pada akhir tahun 2016, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara, Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Aek Nauli, dan Lembaga Vesswec membangun Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Hal ini merupakan upaya dalam mewujudkan pengembangan konservasi, dan wisata ilmiah gajah di Indonesia, serta mendukung pengembangan pariwisata Danau Toba.

“Pembangunan ANECC ini bertujuan untuk mengembangkan konservasi gajah secara eksitu melalui program breeding, pengawetan genetik gajah, obyek penelitian dan pengembangan dan sekaligus sebagai sarana wisata ilmiah dengan model edutainment bagi masyarakat lokal, nasional maupun manca negara,” ujar Sekretaris Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sylvana Ratina, di Simalungun, Kamis (02/05/2019).

Saat ini, terdapat empat gajah disana, terdiri dari tiga betina dan satu jantan yang dipelihara di KHDTK Aek Nauli. Sebelumnya, keempat gajah tersebut berasal dari Kawasan Holiday Resort, Cikampak, Labuan Batu.

Keberadaan ANECC saat ini telah menjadi magnet baru bagi wisatawan yang berkunjung ke Danau Toba. Selama tahun 2018, tercatat lebih dari 60.000 orang yang berkunjung ke ANECC. Masyarakat mengetahui ANECC umumnya dari media sosial, dan teman. Tujuan mereka berkunjung sebanyak 80% karena penasaran untuk melihat dan berfoto dengan gajah dari dekat.

Saat ini, pengunjung ANECC dapat menyaksikan beragam atraksi gajah pada panggung theater, bersentuhan, berfoto, memberi makan sampai mandi bersama gajah yang didampingi oleh mahout/pelatih gajah. Bagi pengunjung dapat juga ikut ‘ngangon’ gajah di dalam hutan KHDTK Aek Nauli bersama para mahout.

Atraksi gajah sendiri biasanya hanya dilakukan pada hari libur dimana pengunjung akan mendapatkan ilmu pengetahuan tentang kehidupan dan perilaku gajah dan menikmati beberapa atraksi seperti gajah berhitung, gajah mengalungkan bunga dan menendang bola.

“Bagi masyarakat Simalungun dan sekitarnya, yang ingin mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang berkesan bersama gajah, silahkan berkunjung ke ANECC,” ajaknya.

KHDTK Aek Nauli memiliki wisata eksotis lain, disamping gajah jinak, yaitu kegiatan memanggil Siamang (Symphalangus syndactylus). Siamang dapat dipanggil dengan cara meniup terompet yang terbuat dari tanduk kerbau. Bila sudah mendengar suara terompet, siamang akan langsung menuju ke arah pawang dengan bergayut dari dahan ke dahan.

Dengan bahasa tertentu yang terekam dalam memori, siamang dapat dipanggil untuk datang, menyapa dan berinteraksi dengan pengunjung. Pengunjung kemudian dapat memberi makan maupun berfoto dengan siamang. Perilaku siamang baik individu maupun berkelompok memiliki keunikan tersendiri yang menarik untuk dinikmati pengunjung taman kera dan akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Untuk mencegah punahnya siamang, diperlukan campur tangan para pihak dalam menjadikan keberadaan siamang sebagai objek wisata dan riset sehingga dapat mendatangkan manfaat bagi daerah tanpa harus mengganggu atau menangkap satwa tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *