Mandeh, Surga Tersembunyi di Pesisir Selatan Sumatra Barat

Klik Mandeh – Mandeh di Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar) selalu punya cara tersendiri untuk mengisahkan keindahannya. Inilah  gugusan pulau yang melingkupi Traju, Sironjong Besar, Sironjong Kecil, Pulau Setan, hingga Pulau Cubadak yang seluruhnya cantik dengan perbukitan hijau nan alami.

Melihat Mandeh, seakan bercerita tentang sebuah surga yang masih tersembunyi. Keindahannya tidak kalah dengan Raja Ampat, Papua Barat. Keelokan Mandeh itulah yang mendorong pemerintah mengembangkannya sebagai Kawasan Wisata Bahari Terpadu.

Mandeh yang masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, itu semakin menjadi primadona baru pariwisata di Kota Minang.

Kawasan wisata bahari Mandeh, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. (Foto: Kemenpar)

Terletak 43 kilometer dari Kota Padang, Mandeh bisa ditempuh dengan jalur darat sekitar 2 jam perjalanan. Jalan mulus dan berkelok ditambah panorama alam yang indah membuat siapa saja yang datang semakin penasaran ke destinasi yang sering disebut ‘Raja Ampat’ di Sumatera Barat itu.

Ke arah utara kawasan tersebut, pengunjung bisa menikmati gugusan pulau yang terlihat melingkar seperti Pulau Pagang, Pulau Marak yang berdampingan dengan Sikuai, serta Pulau Bintangor.

Untuk menikmati gugusan pulau yang ditetapkan sebagai Kawasan Wisata Terpadu oleh Presiden Joko Widodo pada 10 Oktober 2015 itu, bisa dilakukan dengan beberapa cara.

Yang pertama dengan melakukan “island hopping” dimulai dengan menyewa perahu nelayan dari Dermaga Lama Carocok. Di sana sudah ada beberapa pegiat wisata yang menawarkan paket-paket untuk perjalanan sehari (one day trip) mengelilingi kawasan mandeh. Harganya pun beragam tergantung jumlah peserta yang ikut. Mulai dari Rp150 ribu perorang. Harga tersebut minimal kuota peserta trip sebanyak 10 orang.

“Harga menyesuaikan dari banyaknya peserta yang ikut. Harga itu sudah termasuk biaya sewa alat snorkeling dan makan siang yang dihidangkan di Pulau Setan,” kata Ryan Pramayoga salah satu operator jasa wisata di Mandeh.

Wisatawan tidak perlu khawatir untuk “island hoping” di Mandeh. Ryan membekali kapalnya dengan peralatan keselamatan standar seperti jaket pelampung. “Meskipun perairan di sini tenang, prosedur keselamatan tetap kami perhatikan. Supaya wisatawan nyaman berwisata,” katanya.

Bermodal mesin kapal 15 PK, Ryan bersama 300 pemilik kapal yang dulunya nelayan, kini beralih menjadi tour operator. Dan memanfaatkan nama Mandeh sebagai salah satu sumber penghasilan mereka.

“Di sini ada spot snorkling dengan berbagai macam ikan dan biota laut yang bisa langsung dilihat. Juga ada spot kapal Belanda yang karam bisa dilihat dengan cara scuba diving,” katanya.

Tidak hanya itu, aktivitas “cliff jump” atau lompat dari tebing langsung ke laut bisa menjadi atraksi sendiri di Pulau Sironjong. Terdapat anak tangga yang mengantar kita ke puncak tebing. Tingginya pun bervariasi mulai dari 5 meter sampai 20 meter.

“’Cliff jump’ ini sudah sangat familiar. Akan tetapi wisatawan yang belum pernah melakukannya disarankan tidak melompat dari ketinggian 20 meter. Atau dengan kata lain hanya untuk yang sudah profesional saja,” kata Ryan.

Selain wisata bahari, wisatawan juga bisa menikmati Mandeh dengan melakukan trekking ke beberapa air terjun. Salah satunya Air Terjun Mandeh. Bila beruntung, saat trekking wisatawan bisa berjumpa dengan kawanan monyet siamang, salah satu spesies kera hitam berlengan panjang dan hidup di pepohonan di kawasan Mandeh.

Sebagai penutup hari, maka melihat matahari terbenam di Puncak Mandeh bisa menjadi menu wajib bagi wisatawan. Di sana terdapat area khusus untuk melihat keindahan beberapa pulau di sekitar Mandeh. Ada juga tempat duduk nyaman yang bisa digunakan untuk bersantai.

Namun, jangan lupa untuk tetap menyayangi Mandeh. Kelestarian dan keindahannya adalah sesuatu yang harus dijaga. Maka wisatawan pun selalu diingatkan untuk menjaga kebersihan, baik saat “island hopping” atau ketika menikmati sunset di sana. Supaya ikan-ikan dan habitat laut tidak tercemar dengan sampah yang dibawa wisatawan. Jadi kapan mau ke Mandeh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *